Wednesday, July 31, 2013

M&M's


Last night two years ago, (tho the nurse didn't allow me to eat anything) husband secretly fed me M&M's few hours before I delivered Seranina.
Last night, he came home with M&M's in his hand to celebrate 'two years of our parenthood'.

You.. yes you, I love you.

Monday, October 29, 2012

Hello!


Blog post terakhir saya adalah tanggal 8 November 2011! Dan itu artinya hampir setahun saya ga nulis di sini. Canggung rasanya mau nulis di sini lagi. Apalagi setelah baca posting lama dan geli abessh baca tulisan-tulisan di jaman ababil. :))
Sempet kepikiran buat pindahan ke wordpress atau sekalian pakai private hosting dan domain, tapi seperti biasa, ada sisi sok sentimentil yang merasa berat buat pindahan. Sering kepikiran kl pakai private hosting dan domain dan tiba-tiba saya meninggal, blog ini akan hilang begitu saja tanpa bisa dibaca anak-cucu saya di kemudian hari. Oh yeah, too far I know. Belum tentu juga mereka minat baca cerita-cerita ga penting (apalagi pas jaman ababil) di sini.

Lalu kemana saya (hampir) setahun belakangan ini? Saya SIBUK sekali mencari alasan buat ga ngeblog. :p
I will not try to find any other excuses for this laziness.
Yes, status (kl masih boleh dibilang) baru saya sebagai seorang ibu seringkali mengharuskan saya jumpalitan, menelan makan siang tanpa benar-benar mengunyah, menahan hasrat ke kamar mandi sampai menemukan waktu yang tepat, lari-lari (literally) di dalam rumah even cuma untuk masukin cucian ke mesin cuci, memasak dengan kecepatan ala masterchef (dengan hasil yang jauh berbeda tentunya), dan lain sebagainya. Tapi sebenernya kl mau, saya masih punya waktu untuk nulis di sini, sebagaimana saya masih punya waktu untuk bersenang-senang, ketemu teman-teman, tetap mengajar setiap Hari Minggu, dan lain sebagainya. Sayangnya selama ini rasa malas ngeblog lebih dominan sehingga saya menghilang. Apalagi ada twitter yang bisa mengakomodir isi pikiran dan curhat colongan dengan lebih cepat. Nah, nemu excuse kan jadinya.. :p

Apa kabar Seranina? Sudah bisa apa aja dia?
Besok, 30 Oktober 2012, tepat 15 bulan dia bersama kami. Atau 24 bulan kl dihitung sejak dia di kandungan. Sudah bisa ngomong, "Ini Nina" sambil tepuk-tepuk dadanya, sudah bisa jalan dengan cukup lancar, sudah mau duduk manis di highchair lebih lama, sudah bisa minta ini-itu, berantakin rumah, (sok) berdoa, (sok) telepon sambil jalan kesana kemari lalu ngakak sendiri, (sok) serius baca buku, dan banyakkk sekali kebisaan lainnya.

Harus saya akui, 15 bulan ini adalah 15 bulan yang paling menakjubkan dalam hidup saya. Banyak hal yang saya pelajari dari manusia kecil ini, terutama tentang empati, kasih sayang, dan bagaimana memaafkan. Tingkahnya makin lucu, makin bocah, dan makin pintar meniru, mengingatkan kami orangtuanya untuk lebih 'ngati-ati' lagi dalam bertutur dan bertingkah laku.

Seperti apa dia sekarang?
Rambutnya keriting kemerahan dan badannya ga lagi sebulet dulu. Kl udah keringetan, bau bayinya udah hilang dan berganti bau acem bocah. Mudik terakhir lebaran lalu, keluarga dari sisi saya bilang, dia-yang-sekarang mirip saya-semasa-kecil. Sedangkan keluarga dari sisi suami bilang dia makin PLEK papanya. Yawis ndapapa asal nda mirip tetangga. :))

Baiklah, sekian update-nya. Semoga besok atau lusa blog ini rajin diisi seperti dulu lagi. :D

Tuesday, November 8, 2011

You don't wish I married your dad, do you?

Saya memang lagi seneng-senengnya jadi ibu dan berharap banget anak saya cepet bisa ngomong dan manggil saya 'mama'. Tapi bukan berarti saya seneng juga dipanggil 'mama', 'mommy', 'bunda', atau apalah sebutan sebangsanya, oleh selain anak saya (atau anak kecil lainnya yang menganggap saya ibunya).
Kl panggilan itu dipakai sama sales toko bayi atau owner online shop, atau untuk tanya/jawab di forum/milis ibu-ibu masih agak dimaklumi lah yaa.. mostly memang mode setting-nya momamomi atau bunda untuk menggeneralisir panggilan. Tapi kl dipanggil 'mommy' atau 'bunda' sama teman sendiri? Sumpah saya geli. Kl sama teman yang deket banget, biasanya saya langsung bilang, "seriously, you don't wish I married your dad, do you?"
Sayangnya seringnya saya cuma bisa mesem sambil garuk-garuk kuping (dalam hati).

Saya ngerti banget kl maksudnya adalah membahasakan panggilan untuk anak saya. Tapi kok ya kuping saya nrimonya risih, yaa..
Jadi untuk yang manggil saya momamomi atau bunda dan kebetulan baca blog ini, berhentilah berharap saya jadi ibu tirimu. Percayalah, insya Allah itu ga akan terjadi. :p

Ada yang merasakan hal yang sama?

Monday, October 31, 2011

Tiga Bulan bersama Seranina

Hari ini Seranina tepat berusia 3 bulan. Selama 3 bulan ini dia telah mengubah hidup saya dan suami, serta membuat rumah kami 'bau bayi'.
Badannya sudah bulat berisi, tingkahnya semakin banyak, lehernya semakin kuat, tawanya sudah tergelak, dan belakangan ini celotehnya selalu menceriakan pagi di rumah kami. Saya, si ibu amatir tanpa asisten dan jauh dari orangtua ini, harus kejar tayang belajar dari berbagai sumber mengenai segala sesuatu tentang dunia bayi. Tentang pola tidur, pola minum susu, vaksinasi, suhu tubuh, warna urine dan warna poop, asupan ibu menyusui, endesbre endesbre. Banyak dan ga abis-abis. Suami juga sudah sangat jago menggendong bayi dengan berbagai posisi.

Dan bener kata orang, saat kita sudah punya anak, rasanya anak kitalah yang 'ter' di dunia ini. Setiap saat pengennya ngobrol soal dia lagi dan dia lagi, terlebih setiap ada satuuu saja kebisaan barunya. Akun sosial media saya kebanyakan berisi foto atau cerita singkat tentang dia. Dan setiap kali berhasil membuat dia tersenyum puas ataupun tertidur pulas, rasanya seperti baru saja meraih suatu prestasi.

Saya bersyukur karena saat ini saya tidak dihadapkan pada kondisi dimana saya harus meninggalkan Seranina setiap hari. Saya sudah kembali mengajar, tapi hanya seminggu sekali. Saya juga masih bisa berkarya dari rumah sambil melihat tumbuh kembang anak saya secara langsung dan menemaninya di momen-momen berharga yang tidak bisa terulangi.

Dulu saya dibesarkan di sebuah keluarga dengan ibu bekerja yang tidak bisa ada setiap saat untuk saya. Kalau si mbok pulang, saya dititipkan ke tetangga. Sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sering berangan-angan mempunyai ibu yang bisa menemani hari-hari saya, mengambilkan raport saya, dan duduk dengan senyum bangga di antara ibu-ibu lainnya saat nama saya dipanggil sebagai juara. Kami termasuk beruntung karena si mbok yang merawat dan menemani saya setiap hari bukanlah orang yang suka nonton TV ataupun ngerumpi dan saya-kecil adalah anak dengan gengsi tinggi yang malu kalau ga berprestasi. --"
Semakin besar saya semakin mengerti dan tidak menyalahkan ibu saya. Pun menuntut beliau untuk selalu ada. Ibu saya sangat mencintai apa yang beliau kerjakan. Ada passion dan totalitas di sana, dan saya selalu bangga menjadi anaknya.
Hanya saja saya tidak mau Seranina-kecil merasakan hal yang sama dengan yang saya-kecil rasakan. Berkesempatan mengajar dan banyak berinteraksi secara langsung dengan domestic worker disini, juga semakin membuat hati saya merasa mantab untuk mendidik anak saya sendiri, terutama di masa-masa penting tumbuh kembangnya.

Well, saya masih tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Yang jelas untuk saat ini saya masih belum mau kehilangan momen 'berhasil menenangkan tangis anak saya dengan meraih lembut jemari tangannya dan menempelkannya pelan-pelan ke pipi saya'.

Welcome to your 5th trimester, nak.. Semoga selalu sehat dan semakin pinter. 


Dan untuk teman-teman yang harus meninggalkan anaknya untuk kembali ke kantor, semangat, yaa.. Someday your baby surely will understand. Just like little-me. :)

Monday, August 22, 2011

Seranina Ulla Wicaksono

Begitu kami menamainya. Bayi cantik yang akhirnya lahir juga melalui sebuah proses kelahiran yang diwarnai sedikit  drama dan luluhlantaknya idealisme saya untuk melahirkan secara 'alami'. Saya yang sejak awal keuh-keuh mau melahirkan tanpa pain-killer, akhirnya menyerah juga pada epidural setelah proses induksi yang ujug-ujug membuahkan kontraksi dahsyat sampai rasa-rasa mau mati.

Ceritanya, sampai Hari Sabtu, 30 Juli 2011 yang merupakan due date lahiran sekaligus jadwal kontrol terakhir ke dokter, si bocah masih adem ayem di perut emaknya tanpa ada kontraksi yang berarti ataupun pembukaan jalan lahir. Padahal saya sudah melakukan segala cara induksi alami, mulai jalan kaki sejauh-jauhnya setiap hari, sampai minta pijitin suami di titik-titik pemancing kontraksi di tungkai dan telapak kaki *ini sih sekalian karena doyan*. Sayangnya menurut dokter, air ketuban di perut saya sudah menipis sehingga saya harus diinduksi agar tidak membahayakan jiwa si bayi. Menipisnya air ketuban di perut saya diikuti juga dengan menipisnya optimisme saya untuk melahirkan 'senormal-normalnya', karena menurut teori hypnobirthing yang saya pelajari sejak trimester kedua kehamilan, induksi harus dihindari karena menyebabkan kontraksi hebat di saat tubuh belum siap.

Induksi secara oral dilakukan sekitar jam 11 siang dan dokter memperkirakan kontraksi akan terjadi jam 4 sore. Tapi ternyata sekitar jam 1 siang perut saya sudah mules-mules ga karuan. Kami segera kembali ke klinik dokter dan melakukan baby monitoring. Tak lama setelah itu, air ketuban saya pecah dan saya sudah berada di pembukaan 3. Saya pun segera dipindahkan ke ruang observasi rumah sakit menggunakan kursi roda.
Disinilah terjadi drama pertama. Lift yang mengubungkan klinik dokter dengan rumah sakit mati karena ada kebakaran, entah di mana, sehingga saya pun harus turun ke ruang observasi melalui tangga. Bagusss, bukan?

Dengan penuh perjuangan, sampailah saya di ruang observasi. Saya diminta berganti 'baju bersalin' sambil menunggu suami yang menyelesaikan urusan admisi. Proses admisi ini memakan waktu cukup lama karena saat itu kami tidak membawa dokumen dan kelengkapan yang harus dibawa sehingga harus minta tolong adek ipar untuk mengantarnya ke rumah sakit, mengingat tidak terbersit di benak kami kalau saya akan melahirkan di hari itu. Saking lamanya, beberapa kali suster menanyakan sebenarnya saya ditemani siapa dan dimana orangnya.

Saat suami datang, saya sudah berada di pembukaan 5. Nafas saya sudah tinggal 1-2-3. Kontraksi hebat terjadi dengan intensitas yang makin cepat. Teori humming di pelajaran hypnobirthing mulai saya terapkan. Dzikir yang terlintas di kepala juga saya baca semua. Tapi dasar saya panikan, semua itu tidak mempan. Saya pun diberi masker gas apalah itu yang justru bikin bingung dan mikir tiap mau nafas.
Akhirnya drama selanjutnya terjadi. Saya ngotot minta disuntik epidural. Padahal sebelum-sebelumnya saya meminta suami untuk berjanji agar menolak kalau saya minta epidural. Bahkan di birth plan kami jelas-jelas tertulis "Do not offer me any pain-killers unless I ask for it."
Setiap kontraksi hebat datang, saya mendadak kehilangan konsentrasi dan kehabisan tenaga setelahnya. Apalagi saat itu saya sedang lapar. Pokoknya saya mau epidural!

Menanggapi permintaan saya, seorang suster datang dengan membawa surat persetujuan anestesi yang harus ditandatangani beserta informasi mengenai resiko yang mungkin terjadi.  Suami yang masih berusaha konsisten memegang janjinya kepada saya, meminta suster tersebut meninggalkan kami dan memberi kami waktu untuk membaca surat persetujuan itu dengan seksama.
Seksawhattt? Mau baca 2 halaman penuh tulisan dalam bahasa enggres yang banyak istilah-istilah medisnya itu dengan seksama? Butuh waktu berapa lamaaa?
Saya yang panik saat suster beranjak meninggalkan kami segera memencet tombol emergency, "Hey, don't leave us. Just give me the epidural. I will sign it RIGHT NOW!"
Dan saya dengan yakinnya berkata pada suami, "I've already known the risk. I just need that-what-so-called-epidural. Please.."
Begitulah. Akhirnya suami saya menyerah dan mengijinkan saya menandatangani surat persetujuan anestesi tersebut (dan menjadikannya bahan ledekan hingga hari ini --").

Sekitar jam 4 sore, saya dipindahkan ke ruang bersalin dan disuntik epidural. Perlahan rasa sakit saya mereda dan terganti oleh gemetaran yang luar biasa. Lalu saya pun ngadu ke suami, "tiba-tiba aku gemeteran banget, kenapa ya?"
Dengan sewot suami menjawab, "yeee... katanya tadi udah tau resikonya! Jelas-jelas disitu ditulis salah satu resikonya ya gemeteran." Saya cuma bisa menimpali dengan "oh" sambil cekikikan. :D
Tak lama setelah sebagian badan saya merasa kebas, terjadi pertambahan pembukaan yang signifikan dari 5 ke 9. Saat itu rasanya semakin ga sabar untuk ketemu bayi yang selama ini ada dalam perut saya. Sayangnya karena saya baru disuntik epidural di pembukaan 5 dan jarak dari pembukaan 5 ke 9 terlalu cepat, saya tidak bisa merasakan adanya kontraksi sama sekali, sehingga menghambat proses pertambahan pembukaan selanjutnya. Sampai suami selesai sholat maghrib dan kami selesai membicarakan beberapa topik ga penting sambil cekikikan ga jelas, pertambahan pembukaan belum juga terjadi. Acara tunggu-menunggu pembukaan itu membuat saya semakin lapar, sehingga walaupun dilarang, diam-diam suami menyuapkan M & M's pada saya.  

Pembukaan 10 baru terjadi sekitar pukul 20:00. Setelah diberi kesempatan untuk mencoba mengejan sendiri, akhirnya saya pasrah untuk dibantu megejan dengan aba-aba karena saya benar-benar kebas, tidak bisa merasakan apa-apa. Akhirnya tepat pukul 20:20 waktu Singapore, bayi cantik dengan berat badan 2.7 kg dan panjang 48 cm itu lahir juga dengan 'ditangkap' langsung oleh papanya sendiri, sesuai request kami. Air mata saya tidak bisa berhenti mengalir saat melihat dia untuk pertama kalinya. Juga saat pertama kali saya memeluk, menyusuinya, dan samar mendengar suami membacakan iqamat di telinganya. Sungguh momen yang syahdu, haru, dan bahagia.

Keesokan paginya, efek induksi masih terasa. Perut saya kembali mules-mules serasa masih ada satu bayi lagi di dalam sana. Kata suster jaga, hilangnya efek induksi pada sebagian orang memang memerlukan waktu yang cukup lama. Namun saya tak lagi ambil pusing saking bahagianya. Tiap kali bayi mungil itu diantar ke pelukan saya, wajah saya kembali berlinangan air mata. Subhanallah, dia begitu indah (dan sangat mirip papanya --")

Seranina Ulla sendiri artinya bidadari kecil yang berkedudukan tinggi (di hadapan Tuhan), dengan harapan dia akan selalu menjaga sholat dan ibadahnya. Ulla dalam Bahasa Jerman juga berarti berkemauan keras / pantang menyerah.
Wicaksono? Nama papanya tentunya. 

Semoga kelak bayi mungil yang cantik dan lucu ini tumbuh menjadi wanita cerdas yang selembut bidadari dengan ahlak yang mulia dan berkemauan keras dalam memperjuangkan ilmu dan kebaikan.
Dan sampai kapanpun, dalam hati saya dan suami, dia akan selalu menjadi Nina, gadis kecil kami.


:)